Goresanku

Blog EntryI'm sorry my frends...Jul 1, '08 12:03 AM
for everyone

Dear all my friends....

Hik hiks secara dah gak dapet akses ngempi lagi, dengan berat hatiiiiii sekali aku gak ngempi untuk waktu kedepan. Do'ain ya teman2 supaya kami bisa ngempi lagi bareng2...

Untuk yang mau japrian, sila hubungi aku by mail di widi@ybb.co.id selama working hours Insya Allah aku setiap waktu online terus.

Untuk perhatian sahabat-sahabat sekalian via PM ato YM yang gak pernah aku balas, aku mohon maaf sebesar2nya yaa...dan terima kasih sekali aku haturkan buat smuanya....

Jazakumullah khayran katsira.

widi n_n


Blog EntryMENCARI SEBUAH MESJIDAug 7, '07 12:19 AM
for everyone

 Oleh : Taufiq Ismail

 Aku diberitahu tentang sebuah masjid
 yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
 fondasinya batu karang dan pualam pilihan
 atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
 dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
 digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
 dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
 dengan warna platina dan keemasan
 berbentuk daun-daunan sangat beraturan
 serta sarang lebah demikian geometriknya
 ranting dan tunas jalin berjalin
 bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
 menyentuh lapisan ozon
 dan menyeru azan tak habis-habisnya
 membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
 kemudian nadanya yang lepas-lepas
 disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
 yang memperindah ratusan juta sajadah
 di setiap rumah tempatnya singgah

 Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
 bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
 engkau berjalan sampai waktu asar
 tak bisa kau capai saf pertama
 sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
 bershalatlah di mana saja
 di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
 yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
 dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
 di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
 yang menyimpan cahaya matahari
 kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
 ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
 di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
 terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

 Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
 tempat orang-orang bersila bersama
 dan bermusyawarah tentang dunia  dengan hati terbuka
 dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
 dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
 dalam simpul persaudaraan yang sejati
 dalam hangat sajadah yang itu juga
 terbentang di sebuah masjid yang mana

Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
 ketika di puncak tergelincir dia sempat
 lewat seperempat kuadran turun ke barat
 dan terdengar merdunya azan di pegunungan
 dan aku pun melayangkan pandangan
 mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
 ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
 dia berkata :

"Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan" 

 dia menunjuk ke tanah ladang itu
 dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
 secarik tikar pandan
 kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
 airnya bening dan dingin mengalir beraturan
 tanpa kata dia berwudhu duluan
 aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
 ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
 
hangat air terasa, bukan dingin kiranya

demikianlah air pancuran
 bercampur dengan air mataku
 yang bercucuran.

Jeddah, 30 Januari 1988
Taufiq Ismail


Blog EntryBerita Bahagia Kamis Pagi Ini :)Jul 25, '07 8:34 PM
for everyone

Alhamdulillah rekan MPers smuaaa...pagi ini aku dapat SMS yang melegakan hati, khususnya buat mereka yang menunggu2 berita ini

 

Telah lahir dengan selamat Putra pertama dari Mas Bayu & Lala tanggal 26 Juli, pukul 04.40 WIB, proses normal dengan berat 3.5kg panjang 50cm...Terima kasih buat do'anya.

Ayo Mbak Lolly katanya mau nagih oleh2 abang bakso

 


Blog Entry"Jangan Halangi Aku Membela Rasulullah..."Jul 17, '07 4:27 AM
for everyone

 

(Kissah mujahidah NUSAIBAH diperang UHUD)


Hari itu Nusaibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah
beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan
gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menebak, itu pasti tentara
musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung
Uhud.

Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan
masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut
dibangunkannya.


"Suamiku tersayang, Nusaibah berkata, aku mendengar
suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang".


Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa
bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia
bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda,
Nusaibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang".

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu,
tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan
sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda
menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang
sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan
tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian
Said saja.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru
berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan
ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang
pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

"Ibu, salam dari Rasulullah" berkata si penunggang kuda, "Suami Ibu,
Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid"

Nusaibah tertunduk sebentar, "Inna lillah.."
gumamnya, "Suamiku telah
menang perang. Terima kasih, ya Allah".


Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil
Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,

"Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu
telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan
bagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

"Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi
hingga kaum kafir terbasmi".


Mata amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu
sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan
kepadaku untuk membela agama Allah".


Putra Nusaibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya
mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam
wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.


"Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah
yang telah gugur".

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. "Engkau adalah pemuda Islam
yang sejati, Amar. Allah memberkatimu".


Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai
sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan
mereka menuju ke rumah Nusaibah. Setibanya di sana, perempuan yang
tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita,


"Ada kabar apakah gerangan kiranya?" serunya gemetar ketika sang utusan
belum lagi membuka suaranya, "apakah anakku gugur?"

Utusan itu menunduk sedih, "Betul".

"Inna lillah...". Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

"Kau berduka, ya Ummu Amar?"

Nusaibah menggeleng kecil. "Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa
lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak".


Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela,

"Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa
Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani".


Nusaibah terperanjat. Ia memandangi putranya. "Kau tidak takut, nak?"

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum
terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan
tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.


Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda
berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang
kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah
menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan,

"Allahu akbar!"

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah . Mendengar
berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu kuduknya. Ujarnya


"Hai utusan, Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya
masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu
ke medan perang.?


Sang utusan mengerutkan keningnya.

"Tapi engkau perempuan, ya Ibu".

Nusaibah tersinggung,

"Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin
juga masuk surga melalui jihad?"

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja
menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah
mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun
berkata dengan senyum.


"Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat
senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah
tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur".

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng tas
obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika
ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka,
tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang
tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu
dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak
panah musuh, Nusaibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan
gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki
kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang
terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan
membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh,
sehingga Nusaibah sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas'ud mengendari kudanya,
mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu,
begitu melihat sesosok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera
mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas'ud
mengenalinya,


"Istri Said-kah engkau?"

Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya,


"bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau? Beliau tidak kurang suatu
apapun? Engkau Ibnu Mas'ud bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku".

"Engkau masih luka parah, Nasibah".

"Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?"

Terpaksa Ibnu Mas?ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah,

Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran.
Banyak musuh yang dijungkirbalikannya . Namun, karena tangannya sudah
buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan
itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang
benderang.
Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada
para sahabatnya,


"Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para
malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut
kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa".


 

Courtesy of henri_sugiharto@ykk.co.id


Blog EntryPintu-Pintu JannahMay 10, '07 5:13 AM
for everyone

Dapet postingan dari temen milis...bagusssss banget *ummi jadi merinding tiap kali baca* Jadi mikir, betapa ummi gak punya amalan unggulan yang nanti bisa dibanggakan huhuhuhu...Semoga qt kelak dikumpulkan 4JJI di jannah-Nya ya Bi, ya Nak...

Ummi yg O/L tiap hari *dan yg masih terisak-isak*


Awal dari Segala yang Indah

Setelah peristiwa mendebarkan di atas shirath berakhir, mereka yang selamat (semua mukmin) masih harus menjalani satu proses lagi sebelum masuk ke dalam jannah. Nabi Shallallâhu 'Alayhi wa Sallam bersabda,


"Orang-orang mukmin selamat dari neraka, lalu mereka tertahan di satu jembatan pemisah antara jannah dan neraka, lalu sebagian mereka dibalas atas kezhaliman yang mereka lakukan kepada sebagian yang lain ketika di dunia. Hingga ketika mereka sudah dibersihkan dan disucikan, maka mereka diijinkan untuk masuk ke dalam jannah." (HR. al-Bukhârî)


Wajah-wajah berseri penuh harap berbondong-bondong masuk jannah
. Mereka disambut malaikat penjaga dengan ucapan, "Salâmun 'alaykum bi-mâ shabartum", selamat atas kalian karena telah bersabar. Mereka masuk dari beberapa pintu. Sesuai dengan unggulan amal mereka di dunia, dari pintu tersebut ia akan dipanggil. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa pintu jannah tidak hanya satu. Allah berfirman, "(Yaitu) surga 'Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka." (QS. Shâd: 50)

Delapan Pintu Surga


Nabi menyebutkan ada
delapan pintu jannah, salah satunya adalah ar-Rayyân yang diperuntukkan bagi yang konsisten dengan shaumnya. Nabi bersabda,

"Di jannah ada delapan pintu, ada satu pintu yang disebut dengan ar-Rayyân, tidak akan memasukinya kecuali orang yang (konsisten dengan) shaum." (HR. al-Bukhârî)


Adapun pintu-pintu lain, sesuai dengan unggulan amal mereka. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallâhu 'Alayhi wa Sallam bersabda,


"Maka barangsiapa termasuk ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, barangsiapa yang termasuk ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad, barangsiapa yang ahli sedekah, ia akan dipanggil dari pintu sedekah. Dan barangsiapa yang termasuk ahli shaum, akan dipanggil dari pintu ar-Rayyân." (HR. al-Bukhârî)


Mendengar keterangan dari Nabi tersebut,
Abu Bakar tak kuasa memendam rasa penasarannya. Beliau bertanya, "Demi Allah tak seorangpun rugi dari pintu manapun mereka dipanggil, lalu adakah orang yang dipanggil dari seluruh, pintu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, saya berharap bahwa engkau adalah salah satunya."

Subhânallâh, harapan dari Nabi itu tentu bukan sekedar harapan seperti tatkala kita berharap. Harapan itu adalah bisyârah (kabar gembira) bagi Abu Bakar, bahwa memang beliau layak mendapatkannya. Bagaimana tidak? Beliau bukan saja orang yang khusyu' shalatnya, gemar berderma, tak pernah ketinggalan setiap event jihad, konsisten dengan shaum wajib bahkan sunnahnya. Tapi lebih dari itu, beliau selalu menjadi orang terdepan dalam amal shalih.

Kenyataan itu diakui oleh para sahabat utama, termasuk Umar bin Khaththab. Beliau berkata,
"Demi Allah, tiadalah aku berlomba dalam setiap kebaikan melainkan aku mendapatkan Abu Bakar telah mendahului saya."

Suatu pagi, Nabi duduk-duduk bersama para sahabatnya lalu bertanya,
"Siapa di antara kalian yang hari ini shaum?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapa yang pagi ini sudah mengantar jenazah?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapa yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?" Lagi-lagi Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang sudah menengok orang sakit hari ini?" Kembali Abu Bakar menjawab, "Saya." Hingga Nabi bersabda, "Tiada semua itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia akan masuk jannah." (HR Muslim)

Jika seseorang dipanggil dari semua pintu, jelas ini menunjukkan keutamaannya. Bukan indikasi dia akan kebingungan menentukan pilihan. Karena tidak ada orang yang bingung tatkala memasuki jannah, tidak ada yang bingung arah yang mesti dituju untuk sampai ke rumah yang telah disediakan untuknya. Bahkan mereka lebih hafal rumahnya di jannah daripada rumahnya di dunia. Nabi bersabda,


"
Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh seseorang lebih hafal terhadap rumahnya di jannah daripada rumahnya di dunia." (HR. al-Bukhârî)

Apa Unggulan Amal Kita?


Sudah sepantasnya kita mengaca diri, adakah kita memiliki satu amalan yang menonjol sehingga bisa kita andalkan kelak di Hari Akhir? Rejeki amal seperti layaknya rejeki harta. Allah membagi dari berbagai pintu, dengan kapasitas yang bermacam-macam pula. Seperti yang dikatakan Imam malik,
"Sesungguhnya Allah membagi amal sebagaiamama membagi rejeki." Maka kita lihat, apakah semua amal kita hanya biasa-biasa saja, tak ada yang menonjol, atau bahkan semua masih di bawah standar? Jika ada yang menonjol, hendaknya kita jaga dan tingkatkan. Bisa jadi, dari pintu itulah kita akan dipanggil di jannah. Allâhumma innî as-aluKal-jannah, wa a'ûdzubi-Ka minan-Nâr. Âmîn. ( dari majalah Ar-risalah 2006)


Blog EntryKerja CintaApr 23, '07 5:31 AM
for everyone

Dedicated to my humble friend firmansyah@unitedtractors.com 

Pernah seorang teman mengungkapkan keheranannya. Dia heran karena baru 
 saja mendengar berita bahwa ada seorang suami sanggup menceraikan      
 istrinya yang menurut hemat dia melampaui syarat untuk dibilang cantik..
 Sepertinya sulit bagi dia dan mungkin juga saya - katanya - untuk     
 menemukan kekurangan pada rona fisiknya. Namun mengapa si suami 'begitu
 bodoh' melepaskan pasangan yang demikian mempesona.                    
                                                                        
                                                                        
 Keheranannya ternyata perlahan menulari saya, hingga dengan keheranan 
 yang sama, saya terpaksa turut mengikuti berita perceraian pasangan    
 tersebut, yang memang kebetulan artis. Tapi keheranan itu segera lenyap,
 ketika saya mendapatkan alasan si suami. Alasannya sederhana, namun    
 cukup menghentikan saya untuk mengikuti berita-berita mereka           
 selanjutnya. "Saya sudah tidak mencintainya", ketus si suami.          
                                                                        
                                                                        
 Kekuatan apa yang bisa menahan perceraian bila seorang sudah kehilangan
 cintanya. Karena ini sama artinya bahwa ia sudah tidak bersedia lagi   
 memberi, ia sudah tidak bersedia lagi memperhatikan, dan ia sudah tidak
 bersedia lagi mengembangkan pasangannya. Sebab cinta adalah kata yang  
 mewakili tiga tindakan itu: memberi, memperhatikan dan mengembangkan.  
 Ketika cinta sudah tiada lagi, jangan pernah berharap pasangan kita    
 mampu melakukan itu. Padahal pada tiga tindakan itulah simpul-simpul   
 pernikahan direkatkan. Maka bagi mereka yang sudah kehilangan cinta pada
 pasangannya, tak ada lagi yang mampu menahan lepasnya simpul-simpul tali
 pernikahan itu.                                                        
                                                                        
                                                                        
 Di usia pernikahan yang hampir 9 tahun, memang belum layak bagi saya   
 untuk berbicara tentang ini. Tapi pada rentang usia 9 tahun itu, banyak
 pelajaran-pelajaran yang telah saya dapatkan. Salah satu pelajaran yang
 ingin saya sampaikan disini adalah bahwa ternyata manusia itu memiliki 
 lapisan-lapisan kepribadian. Ia akan tersingkap satu persatu seiring   
 dengan bertambahnya usia pernikahan.                                   
                                                                        
                                                                        
 Cinta. Pada fase pertamanya, adalah cinta yang bisa didefinisikan      
 sebagai rasa ketertarikan yang timbul karena lapisan kepribadian       
 pertama. Ia biasanya muncul melalui stimulasi keindahan fisik,        
 keserasian garis-garis wajah dan warna, mungkin juga keelokan bentuk.  
 Indra penyerapnya adalah mata. Mata yang akan memberikan sinyal ke otak,
 hingga jelas tergambar keserasian dan keindahan itu dalam alam pikiran
 kita.                                                                  
                                                                        
                                                                        
 Jika penggambaran ini terus berlanjut, maka ia akan memasuki wilayah   
 hati. Hati inilah yang kemudian memberikan dorongan pada seseorang untuk
 mencintai. Dan ujung dari dorongan itu adalah keinginan untuk memiliki..
 Cinta pada fase inilah yang mendominasi kehidupan kita pada awal-awal 
 pernikahan.                                                            
                                                                        
                                                                        
 Tapi proses cinta tidak berhenti sampai di situ, ia akan terus         
 berlanjut. Stimulasinya bukan lagi keindahan fisik. Ia akan memasuki   
 lapisan kepribadian selanjutnya. Wilayah sifat atau karakter. Indra    
 penyerapnya adalah perasaan. Perasaanlah yang meraba kesesuaian karakter
 pasangan kita dengan yang kita harapkan. Dan ketika telah banyak       
 sisi-sisi karakternya yang telah teraba, maka cinta mengalami ujiannya 
 yang pertama.                                                          
                                                                        
                                                                        
 Di medan pernikahan ini, masing-msing individu yang terlibat tidak     
 mungkin lagi mampu menyembunyikan lapisan-lapisan kepribadiannya. Karena
 disini, nyaris setiap waktu kita berada pada atap yang sama, ruangan   
 yang sama, bahkan kamar yang sama. Disini cinta diuji. Ujiannya adalah 
 waktu. Waktulah yang akan menguji cinta. Saat lapisan-lapisan          
 kepribadian pasanganan kita terbuka satu-satu seiring berjalannya waktu,
 masih kuatkah stamina cinta yang kita punya.                           
                                                                        
                                                                        
 Seberapa kuat stamina cinta kita untuk melakukan kerja-kerjanya, selama
 itu pulalah cinta akan bersemi. Karena cinta hanya akan terus tumbuh,  
 mekar dan berkembang, selama kita kuat merawatnya dengan kerja-kerja   
 cinta. Ketika kerja cinta itu sudah enggan kita lakukan, cinta pun akan
 segera layu, mati, dan akhirnya hilang.                                
                                                                        
                                                                        
 Berceritalah padaku tentang cinta, dengan rasionalisme Yunani atau     
 romantisme Romawi, dengan rumusan Eintein atau syairnya Gibran, dengan 
 atau logika Barat  filsafat Timur, dengan urakan Jamrud atau           
 melankolisnya Peter Pan. Aku mungkin akan terpesona, tapi jangan harap 
 bahwa aku akan tunduk untuk mencintaimu. Karena cinta tidak hanya ada  
 dalam kata, karena cinta butuh kerja nyata. Ia harus teraktualisasi    
 dalam tindakan.                                                        
                                                                        
                                                                        
 Namun bagi para pecinta sejati, ketika cintanya memasuki fase ini, ia  
 tidak lagi disibukkan oleh gangguan yang timbul karena terbukanya      
 lapisan-lapisan kepribadian pasangannya. Cinta telah menyibukkan mereka
 untuk melakukan kerja-kerja cinta. Tidak ada lagi tenaga yang tersisa,
 semua larut dalam kerja-kerja memberi, memperhatikan, dan mengembangkan.
                                                                        
                                                                        
 Pekerjaan cinta bukan lagi beban bagi para pecinta sejati, tapi mereka 
 justru menemukan kenikmatan jiwa saat dirinya melakukan kerja-kerja    
 cinta itu. Cinta telah menjelma jadi padang luas dalam hati mereka, dan
 gangguan itu, niscaya akan lelah mengitari keluasan padang hatinya.    
 Mereka sadar betul, bahwa mencintai bukan untuk menerima, tapi mencintai
 adalah pekerjaan memberi, memperhatikan, dan mengembangkan.            
                                                                        
                                                                        
 Saat mereka mulai tergoda untuk mengingkari kerja cinta, di telinga hati
 para pecinta sejati itu selalu terngiang-ngiang pesan Rasulullah SAW,  
 "yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik memperlakukan   
 istri-istrinya", begitu kata Rasulullah.                               
 Firmansyah                                                             
                                                                        


                                                                        
                                                                        
 Kerja Cinta Pertama                                                    
                                                                        
                                                                        
 Malam padhang mbulan benar-benar menggodaku untuk sejenak duduk di     
 pelataran depan rumah. Walau kecil, tapi cukup nyaman untuk sekedar    
 bersandar dan menelonjorkan kaki.                                     
                                                                        
                                                                        
 Hening, kutenggok sejenak istri dan anak-anak yang sudah terlelap tidur.
 Sungguh malam yang sempurna untuk menemui "teman baikku". Ia kerap kali
 ku termui pada saat- saat seperti ini. Malam ini ingin aku kembali     
 mendengarkan kata-katanya, petuah-petuahnya, nasehat-nasehatnya, tentang
 apa saja. Kubiarkan kensunyian malam membawaku menemuinya. Perlahan    
 ............                                                           
                                                                        
                                                                        
 Hirarkis tapi beriringan, - teman baikku mulai bicara - itulah sifat  
 kerja cinta - katanya -. Engkau takan mungkin bisa memperhatikan sebelum
 kamu mampu memberi. Dan pengembangan takkan pernah kau temukan tanpa   
 perhatian yang kamu lakukan. Apa pula yang hendak kau perhatikan ketika
 belum ada yang kamu berikan, dan bagaimana pula kau mengharapkan       
 pengembangan padahal kamu tidak memberikan perhatian. Karena kerja ini 
 adalah pola kerja yang bersifat hirarkis; memberi, memperhatian dan    
 mengembangkan. Kamu takkan mungkin mendahulukan salah satu dari yang   
 lainnya.                                                               
                                                                        
                                                                        
 Tapi ia bukan hanya hirarkis, ia juga beriringan. Hirarkis beriringan. 
 Maksudnya, saat kamu melakukan kerja selanjutnya, kerja sebelumnya tidak
 boleh kau tinggalkan. Ketika kamu memperhatikan, pada saat yang sama   
 juga kamu harus memberi. Dan ketika pengembangan sendang kamu kerjakan,
 pekerjaan memberi dan memperhatikan harus juga kamu lakukan. Saat      
 memperhatikan kamu harus memberi, dan saat mengembangakan kau juga harus
 memberi dan memperhatikan.                                             
                                                                        
                                                                        
 Maka ketika kamu memutuskan untuk berani mencintai, mulailah dengan    
 kerja memberi. Karena kerja ini menjadi bukti awal bahwa kau           
 benar-benar berminat mencintainya. Memberi juga akan menjadikan        
 bibit-bibit cinta dalam ladang hati pasanganmu bersemi. Sebagaimana    
 tanaman, ia akan subur ketika pupuk kamu berikan dan air kamu siramkan..
 Selanjutnya kamu tinggal memperhatikan. Kamu tinggal mengembangkan. Lalu
 kau boleh petik buah cinta pasanganmu hasil jerih payah kerja cintamu. 
                                                                        
                                                                        
 Memberi. Ia bukan pekerjaan ringan. Maka kamu harus kuat. Karena ketika
 kerja ini ingin kamu lakukan, kamu harus keluar dari dirimu, wilayah   
 kepentinganmu, wilayah keinginmu, melampaui batas-batas kesenaganmu, dan
 memendam semua ketergantungamu. Menuju dunia pasanganmu, memberi semua
 yang dibutuhkannya, jasad dan ruhaninya, dunia dan ukhrowinya. Dan itu 
 takkan mungkin bisa kau lakukan jika kamu orang yang lemah.           
                                                                        
                                                                        
 Memberi. Ia juga bukan pekerjaan gampangan. Maka kamu harus cerdas.    
 Karena bukan yang diinginkan pasanganmu kau berikan, tapi kamu harus   
 penuhi yang ia butuhkan. Kamu harus jeli melihatnya. Antara kebutuhan  
 dan keinginannya. Jika kamu salah memberi, bibit cinta pun takkan pernah
 bisa bersemi. Bahkan mungkin kau malah menyuburkan bibit yang lain.    
 Bibit yang salah.                                                      
                                                                        
                                                                        
 Ketika kau salah memberi. Kamu tidak perlu lagi memperhatikan. Tak perlu
 lagi mengembangkan. Kamu cukup memberi saja. Cukup itu. Bahkan sangat  
 cukup. Karena pemberianmu sudah cukup untuk menyuburkan bibit yang salah
 itu. Ia akan tumbuh, cukup dengan pemberianmu yang salah itu. Maka suatu
 saat engkau akan terperangah, betapa bibit salah itu telah merusak     
 keterminatan cintamu dan bibit cinta pasanganmu. Kebencian, khianat, dan
 egois adalah sebagian bibit yang salah itu. Ketika kau sampai pada     
 situasi ini, kamu akan sadar bahwa ternyata kamu salah memberi.        
                                                                        
                                                                        
                                                                        
 Ketika kau salah memberi. Dan kamu malah berambisi memenuhi semua      
 keinginannya, kamu mungkin bisa. Pada awalnya. Tapi yakinlah, suatu saat
 kamu akan sampai pada situasi dimana kamu tidak bisa memenuhi lagi     
 keinginannya. Dan jika kau sampai pada situasi ini, bibit salah yang   
 telah kau suburkan itu akan segera kau tuai hasilnya. Ia akan          
 mengoyak-ngoyak keterminatan cintamu padanya. Sejadi-jadinya. Dan jika 
 kau tidak segera membenahinya, engkau takkan mungkin mampu bertahan    
 untuk tidak mengatakan: "aku sudah tidak mencintainya lagi".           
                                                                        
                                                                        
 Aku punya kuncinya. Tapi jangan kau bilang-bilang pada istrimu. Ku     
 pilihkan yang paling sederhana. Supaya kamu mudah menggunakannya.      
 Begini. Kamu tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui               
 keiginan-keinginan pasanganmu. Kamu cukup gunakan perangkat            
 pendengaranmu. Kamu tinggal mendengar selanjutnya kamu penuhi. Disini, 
 kuncinya kamu hanya butuh sifat reakti
 Tapi jika kamu ingin mengetahui kebutuhannya. Selain kau gunakan       
 perangkat pendengaran, kamu juga harus gunakan perangkat yang lain.    
 Perangkat hati. Perangkat inilah yang akan membantumu menyelami        
 lapisan-lapisan kepribadian pasanganmu. Sedalam-dalamnya. Mencari semua
 yang dibutuhkannya, jasad dan ruhaninya, duniawi dan ukhrawinya. Untuk 
 kau beri, kemudian kau perhatikan selanjutnya kau kembangkan. Disini,  
 kuncinya kamu harus proaktif.                                          
                                                                        
                                                                        
 Jika telah kamu temukan kebutuhannya, dorongan keterminatan cintamu    
 padanya niscahya akan menguatkanmu untuk memenuhi semua kebutuhannya. Ia
 bisa kau panggil kapan saja. Jika kamu mau. Kamu tinggal membuka catatan
 pada lembaran ingatan hatimu tentang alasan keterminatan cintamu       
 padanya. Kamu baca berulang-ulang. Sampai kamu merasakan ada sesuatu   
 yang mendorong begitu kuat dalam dirimu hingga ragamu tergerak melakukan
 kerja memberi. Karena dalam catatan itu, kamu dulu menyimpan semua hal 
 yang positif tentang dirinya, yang karena hal itu kamu berminat       
 mencintainya. Dan keterminatan cintamu itu adalah kekuatan pendorong   
 yang sangat kuat.                                                      
                                                                        
                                                                        
 "Kak, belum tidur ?". tangan istriku tiba-tiba saja sudah ada          
 dipundakku, mengusir teman yang sedari tadi sedang aku dengarkan.      
 Kulihat cincin dijemarinya, sudah 9 tahun ia memakainya. Aku ingat betul
 cincin itulah pemberianku saat mengikrarkan keterminatanku padanya     
 didepan penghulu dulu. Ya, mungkin inilah hikmah mahar dalam perkawinan.
 Agar ikrar yang di ucapkan bisa melahirkan kepercayaan. Kata memang bisa
 membuka harapan, tapi pemberian akan melahirkan kepercayaan. Dan      
 kepercayaan adalah ladang hati paling subur bagi tumbuhnya benih-benih 
 cinta.                                                                 
                                                                        
                                                                        
 Sebelum beranjak tidur, sekali lagi ku catat bahwa memberi memang bukan
 pekerjaan ringan, bukan pula pekerjaan gampangan.Tapi justru dalam     
 jenak-jenak kerja memberi inilah kita menemukan makna keter-minat-an,  
 harga cinta, dan menyaksikan betapa indah panorama dari sebuah        
 pembuktian kalimat cinta. Sungguh benar apa yang di katakan Rasulullah 
 SAW 14 abad yang lalu, "Saling memberilah kamu, niscahya kalian saling 
 mencintai" begitu kata Rasulullah.                           

Attachment: Springtime.jpg

Blog EntryDialah Wanita Pertama dalam hidupkuApr 18, '07 11:25 PM
for everyone

Postingan ini juga aku ambil dari Eramuslim (secara pengagum karya para penulis huebat di Eramuslim gitu), smuanya mengingatkan kita untuk selalu berbakti pada Ibu.

I Love U Mom :)

 

Dialah Wanita Pertama Dalam Hidupku

Publikasi: 31/03/2004 15:23 WIB

eramuslim - Dua puluh satu tahun telah berlalu usia pernikahanku. Sedikit banyak, aku telah mendapatkan cahaya baru dari kilasan-kilasan cinta.

Suatu waktu aku akan keluar bersama seorang wanita, dan dia bukan istriku. Ide tersebut lahir dan disarankan oleh istriku ketika suatu hari ia melintas di hadapanku dan berkata, “Aku tahu bahwa abang sangat mencintainya.” Wanita yang istriku berharap aku dapat keluar bersamanya dan menyediakan waktu yang cukup untuk menemaninya adalah ‘bundaku’. Beliau telah menjalani masa sendiri selama sembilan belas tahun semejak ditinggal pergi oleh ayahku selamanya. Namun pekerjaan-pekerjaan di kantor, kehidupan harianku bersama tiga orang ‘pangeran-pangeran kecilku’ dan tanggungjawab-tangggungjawab lainn yang menyebabkan aku sangat jarang sekali menjenguknya.

Suatu hari aku menelepon dan mengundang beliau untuk ikut makam malam. Pertanyaan beliau menakjubkanku, “Apakah Asha baik-baik saja?” Maklum, menurutku beliau tidak biasa menanyakan ungkapan-ungkapan seperti itu kepadaku, terutama –mungkin- mengenai waktu aku menghubungi beliau di saat tengah malam.

Aku menjawab, “Ya, Asha baik-baik saja. Dan Asha ingin sekali menghabiskan waktu bersama bunda.” Beliau berkata, “Kita berdua saja?” Kemudian beliau terdiam sejenak, lalu menjawab, “Ibu sungguh sangat menyukainya”.

Pada hari sabtu sore, setelah kembali dari kantor, aku langsung mengendarai ‘Feroza Hijauku’ melintasi jalan menuju rumah kediaman beliau. Aku sedikit segan dan gugup saat tiba di halaman rumah beliau. Namun aku juga membaca kekwatiran di wajah beliau. Beliau sedang menungguku di samping pintu rumah, mengenakan pakaian panjang dengan jilbab biru cantik yang menutupi kepalanya. Aku kembali teringat pakaian itu adalah hadiah terakhir yang dibeli oleh ayahku sebelum beliau wafat.

Beliau tersenyum seperti malaikat dan berkata, “Bunda telah katakan kepada semua tetangga bahwa bunda akan keluar bersama anak bunda hari ini. Mereka semua begitu senang mendengarnya. Tetapi mereka tidak shabar menunggu cerita-cerita bunda bersama Asha yang akan bunda ceritakan kepada mereka setelah bunda kembali nanti.”

Kami pun berangkat menuju sebuah restoran Padang yang tidak terlalu megah. Interior khas Minangnya begitu anggun dan suasana di dalamnya sangat indah dan asri. Aku menggandeng beliau dengan erat dan mesra, seolah beliaulah ‘wanita pertama dalam hidupku”. Setelah kami mendapatkan tempat duduk, aku mulai membacakan daftar menu makanan dan minuman yang disediakan. Sebab beliau saat ini tidak lagi mampu untuk membaca kecuali susunan huruf-huruf yang besar saja. Di saat aku sedang membacakan susunan menu, beliau menatapku dan melayangkan selembar senyum menyejukkan. Sesaat kemudian sebaris kalimat terucap, “Bunda adalah orang yang telah membacakan sesuatu untuk Asha ketika Asha masih kecil dulu.”

Kemudian aku menjawabnya, “Tiba kini waktu yang tepat. Sesuatu yang menjadi hutang Asha terhadap apa yang bunda telah persembahkan untuk Asha.”

Kami mengobrol panjang lebar sambil menikmati makanan yang tersaji. Masing-masing kami tidak menemukan sesuatu yang asing dari kebiasaan kami saat ‘curhat’. Cerita-cerita masa lalu yang penuh kenangan juga kami selingi dengan cerita dan pengalaman baru. Tanpa terasa kami lupa waktu hingga akhirnya tiba waktu tengan malam. Selang beberapa saat aku segera mengantar beliau pulang.

Ketika kami sampai di rumah, beliau berkata, “Bunda setuju bila kita dapat keluar bersama sekali lagi, tetapi bunda yang akan mentraktir Ahsa. Deal?” Aku mengangguk ramah lalu mencium tangan beliau dan mengucapkan salam, “Salam wa rahmah alaiki, wahai bundaku!”

Setelah melewati beberapa hari, wanita yang telah menjadi ‘hati bagi anak-anaknya’ tersebut meninggal dunia. Kejadian itu berlalu sangat cepat dan aku belum dapat melakukan sesuatu pun untuknya. Setelah kejadian yang menyedihkan itu, aku mendapatkan sebuah ‘lembaran’ dari restoran Padang, tempat kami menikmati makan malam bersama beberapa waktu yang lalu. Termaktub padanya tulisan dengan huruf-huruf besar yang rapi, “BUNDA TELAH MEMBAYAR TRAKTIRAN BUNDA LEBIH AWAL. BUNDA TAHU BAHWA BUNDA AKAN PERGI. YANG PENTING, BUNDA TELAH MEMBAYAR UNTUK JATAH DUA ORANG, UNTUK ASHA DAN ISTRI ASHA.KARENA SESUNGGUHNYA ASHA TIDAK AKAN MAMPU MENTAKDIRKAN APA MAKNA MALAM ITU BERKAITAN DENGAN BUNDA. BUNDA MENCINTAI ASHA.”

Dalam satu kesempatan aku mulai memahami dan menghargai makna kalimat “Cinta” atau “Aku mencintaimu”. Apalah artinya di saat kita menjadikan arah lain yang akan merasakan cinta kita dan orang yang kita cintai. Tidak ada sesuatu yang lebih berarti daripada cinta dan kasih sayang kedua orang tua dan lebih khusus cinta seorang “bunda”. Aku akan mempersembahkan semesta waktu yang mereka berhak atasnya, dan dialah hak Allah sepenuhnya dan hak mereka. Perkara-perkara ini jangan sampai kuperlambat lagi.


Asha Gazzaz
deruja_chandra@yahoo.co.uk

Buat Ayat: “Keistiqamahanmu akan memudahkanmu untuk menyempurnakan separuh agamamu. Insya Allah, dialah dermaga satu-satunya tempat kau berlabuh kelak!”



Blog EntryTanganmu, IbuApr 18, '07 11:22 PM
for everyone

Postingan tentang betapa besar kasih Ibu di situs manapun pasti membuatku menangis, salah satunya aku posting disini. Ini diambil dari Eramuslim beberapa tahun yang lalu (tapi gak pernah bosen aku baca)

Tanganmu, Ibu…

Publikasi: 10/10/2003 11:03 WIB

Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan

(Emha Ainun Najib)

Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. “Alhamdulillah, kamu sudah pulang” itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.

Ba’da Ashar,

Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih”. Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. “Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja” pikir saya

Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram”. Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.

Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah” pinta Ibu.

Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam” sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.

Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. “Neng..” itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. “Bu, siapa itu…?” tanya saya. “Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang” pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.

Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?

Dingin” bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.

Adzan isya berkumandang,

Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.

Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. “Duh Allah, sayangi Mamah” spontan saya memohon. “Neng…” suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.

Tangan ibu kenapa?” tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.

Penyakit orang tua”

Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga” tambahnya.

Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.

Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.

Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan…. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..Pernahkah..?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya “Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak”. “Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang” Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.

***

Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya…

* dwi,shanti, apakabar Ibunda?

mahabbah12@yahoo.com


 


Blog EntrySaat - saat terindah...Apr 10, '07 4:07 AM
for everyone
Kuakui...
Setelah malam larut ke dalam wajahmu
Senyummu tiba tiba menjadi manis sekali
Kupikir hanya karena permainan cahaya belaka
Namun ternyata cahaya itu...]
...cahaya yang pudar
...hanya terlihat jika remang - remang malam
...menampilkan kunang - kunang di cakrawala parasmu

Ingin rasanya aku terjun bebas di kolam siluet senyummu
...dan berenang di dalam lautan cahaya bermandikan indah bayangmu
Mungkin aku akan basah dan bermandikan pelangi ...
....dan mungkin aku akan tersesat
serta ...mengapung kelaparan karena rindu yang mendalam

Akan tetap kuselami lautmu ...
Sampai kutemukan mutiara yang kau sembunyikan
Biarpun aku harus terlarut dalam setiap kali kedipan matamu
Tak akan kulewatkan pertunjukan aurora dalam setiap tatap matamu

Tahukah kau...?
Saat - saat terindah yang selalu kunantikan...
...yaitu saat hati mengetuk pintu hati yang lain
Dan berbisik malu secara perlahan...


Blog EntryPanen KemuliaanApr 10, '07 4:06 AM
for everyone
Oleh : Dede Farhan Aulawi

terbitnya fajar di ufuk timur
mengawali setiap langkahku dengan asma-Nya
sejuta do'a terpanjat ke hadirat-Nya
agar setiap langkah kita...
dan apapun yang akan kita lakukan...
senantiasa berada dalam ridlo-Nya. Amin

dengan demikian....kita kan menjaga setiap ucapan kita
bahkan seluruh perbuatan kita...
termasuk rutinitas kehidupan kita
agar selalu berada dalam garis ketentuan-Nya

kebeningan awan di atas sana begitu meruntun jiwa
keheningan syahdu meresap ke tangkai hati
betapa sejuk sentuhan bayu menerobos ruang jendela
di kejauhan kabut tebal masih menyelubungi angkasa
mungkin... hujan akan turun membasahi tataran bumi tercinta
sesekali laungan kodok memecah keheningan pagi

kenangan demi kenangan berlabuh di depan mata
sedih, suka , lucu silih berganti
namun impian semakin menebal
impian tuk duduk bersenandung dengan yang tersayang
impian tuk merawat bunga hati

namun...bunga itu tlah kering kini
lupa memberi siraman air lahir dan siraman gizi rohani
melayang tanpa tujuan tertiup sang bayu
terperosok di antara retakan bumi yang patah
bunga...tidak lagi seperti bunga....
tapi ia bagai ilalang kering...
ilalang tiada harga
dimana bernilai tak lebih dari seonggok sampah jalanan
paling tinggi bagai ranting yang rapuh...
dimana mudah tersulut dan terbakar oleh terik mentari
ketika ada pemantik....
maka meledaklah emosi...keluarlah umpatan dan cercaan
padahal hidup...adalah hidup....
pengendalian emosi adalah soal kematangan...dan kedewasaan

betapa banyak orang yang kecewa karena sikap kita
betapa banyak orang tersakiti karena ucapan kita
mau sampai kapan....???
akankah kita terus menebar kecewa...dendam...dan luka lama...?
janganlah berlindung dibalik alasan "kebiasaan"
apalagi dibiarkan bertengger di singgasana "tabi'at"
biarkan berlalu....
nun jauh di sana terhampar ladang "maaf" yang luas
tebarkan benih - benih kasih sayang
pupuk dengan kesabaran dan sirami dengan keikhlasan
niscaya kita kan memetik panen kemuliaan. Amin

Blog EntryAkankah Tetap MengingatkuApr 10, '07 4:05 AM
for everyone
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat…
Aku coba berfikir dalam diammu
Aku mencoba mendengar bisik nuranimu
engkau manusia biasa...pasti punya pilihan dan keinginan

Aku tahu...di gerimis hujan malam itu
Kau datang mengetuk pintu hatiku
Tapi..aku tlah terlarut dalam tidur panjangku
Kau datang...tuk menyatakan sebuah penyesalan
Kau datang dengan segenggam bunga kenangan
Tepat...beberapa saat setelah lapuknya nisan kasihku

Ingatkah waktu itu....
Ketika kuberdiri dalam gerimis penantian
Berharap ada uluran payung kasih tempat ku berlindung
Dari sengatan mentari siang...
Dan guyuran hujan di musim ketidakpastian
Basah dan dingin menyelimutiku saat itu
Waktu yang bergulir semakin malampun tak ku hiraukan
Karena hatiku hanya mengerti satu bahasa....
...yaitu bahasa "Rinduku Padamu"

Semua ku lakukan untukmu
Sepenggal pesan yang ingin ku sampaikan padamu
Di detik - detik yang tak pernah kau mau mengerti
Aku tak ingin titipkan pesan pada siapapun
Karena ingin kupastikan ...bahwa pesan itu langsung sampai padamu
Dengan bahasaku ...tuk memasuki ruang hatimu
Dari bibirku yang membiru karena menggigil kedinginan
Tuk menjadi saksi akan kesungguhan ucapanku

Aku faham kalau kau tak mau datang di malam itu
Tapi tak adakah sederet pesan biar ku tak mati kedinginan
Tak adakah secuil nurani sebagaimana pernah kita rasakan...
Haruskan tuk membuktikan Kesungguhan dengan Kematian ???

Sore ini...
Aku berdiri di atas kuburku
Kutatap seonggok tanah merah yang masih membekas
Kubaca sebuah nama di papan nisan
Dengan sedikit taburan bunga sebagai hiasan...
Dan aku bertanya....
..."Akankah Kau Tetap mengingatku ?"

Blog EntryDo'a Kebeningan CintaApr 10, '07 4:04 AM
for everyone
Oleh : Dede Farhan Aulawi



  Ya ALLAH.....
  Engkau Maha Tahu setiap bersitan kalbu
  Engkau Maha Mendegar lirih bisik jiwaku
  .....dan setiap desah doaku kala hening membungkus malam
  Engkau Maha Melihat ... lelehan air mata kala sunyi begitu menyergap
  Engkau Maha Mengetahui apa yang terucap dan tersirat
  Engkau Maha segala - galanya....
  Malam - malam akan menjadi saksi setiap linangan air mata
  ... yang selalu munajat hanya pada-Mu semata
  Memohon dan..memohon...
  Karena kami adalah hamba-Mu yang sangat lemah
  Tak ada yang patut kami banggakan atas seluruh kekayaan yang kami miliki
  ...karena itu semua adalah titipan dan amanah-Mu jua
  Begitupun dengan amanah hati atas diriku
  ...bimbing aku agar bisa mencintai dan dicintai sepenuh hati
  Dicintai oleh seseorang yang kan menjadi takdir hidupku
  Disayangi oleh kedua orang tua yang telah melahirkanku
  Disukai oleh seluruh saudara dan sahabatku
  Dan diridhoi oleh Engkau Tuhan Yang Maha Pemurah

  RABB.........
  aku hanya memohon bertemu dia wanita biasa .....
  bukan Ratu dengan mahkota di kepala
  juga bukan saudagar dengan berbagai piala
  Hanya wanita biasa .... tetapi punya cinta

  Ya ALLAH.....
  ampuni  aku   yang   berharap dia...
  yang mungkin Kau takdirkan bukan untukku
  tapi aku manusia biasa...
  yang memiliki asa dan cinta
  Engkau Tuhan Yang Serba Maha...
  Beri aku kesungguhan tuk mencintai dan menyayanginya
  Beri aku ketulusan tuk persembahkan bunga kesetiaan
  Beri aku kesempatan tuk mendampingi hari - harinya
  ...sebagai pendamping hidup yang penuh kemuliaan...
  Engkau Maha Tahu....
  Aku hanyalah manusia papa yang tak memiliki apa - apa....
  Kecuali "Kebeningan Cinta "

Blog EntrySyukur NikmatApr 10, '07 4:03 AM
for everyone
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Langit mendung...menyelimuti Bandung-ku
Guyuran hujan datang setiap saat sekehendaknya
Basah bumiku menyegarkan udara persadaku
Memberi inspirasi ketenangan dan rasa syukur
"Segala puji milik-Mu ya Rabb-ku"
Disini aku bersimpuh tuk bersyukur atas segala nikmat-Mu

Ya Rabb...sungguh banyak berbagai nikmat yang telah Kau anugerahkan
Bahkan kenikmatan - kenikmatan itu tak bisa dicacah dengan hitungan
Hanya saja aku jarang menyadarinya....
Dan kini baru ku tahu...baru ku sadar...
Ketika aku berkunjung ke berbagai persinggahan...

Batapa banyak orang yang terbaring di rumah sakit....
Dengan biaya berpuluh...bahkan beratus juta...
Mengerang kesakitan....
Tak enak diam dan tak enak makan....
Oh...betapa mahalnya tuk peroleh nikmat sehat-Nya
Dan syukur...saat ini aku sehat wal'afiat

Betapa banyak orang memiliki keterbatasan fisik....
Tapi mereka tetap survive untuk tetap hidup dan bersemangat....
Menimbulkan inspirasi syukur...
Bahwa aku harus lebih giat lagi bekerja
Dan banyak lagi fenomena empirik yang bisa menimbulkan rasa syukur
Tapi hanya segelintir orang yang mau menyadarinya...
Kembali aku bersyukur...bahwa aku masih diingatkan tuk bersyukur

Ternyata Allah Yang Maha Kuasa memiliki berbagai cara tuk mengingatkan...
Agar kita tak lepas kontrol dengan berbagai kenikmatan...
Karena sesungguhnya apappun yang terjadi dengan kita...
Bagaimanapun kondisi kita....
Itu sesungguhnya adalah nikmat terbaik buat kita
Nikmat terindah disisi-Nya
Meskipun kadang kita tak menyadarinya...
Karena kita sering memungkiri hikmah di balik setiap kejadian
Padahal kalau kita bersyukur.....
Nikmat Rabb itu akan ditambah
Dan sebaliknya jika kita kufur terhadap nikmat-Nya
Maka sesungguhnya siksa-Nya sangat berat....
Padahal kalau kita mau merenung....
"Nikmat Rabb yang mana yang bisa kita dustakan ?"