Dear all my friends.... Hik hiks secara dah gak dapet akses ngempi lagi, dengan berat hatiiiiii sekali aku gak ngempi untuk waktu kedepan. Do'ain ya teman2 supaya kami bisa ngempi lagi bareng2... Untuk yang mau japrian, sila hubungi aku by mail di widi@ybb.co.id selama working hours Insya Allah aku setiap waktu online terus. Untuk perhatian sahabat-sahabat sekalian via PM ato YM yang gak pernah aku balas, aku mohon maaf sebesar2nya yaa...dan terima kasih sekali aku haturkan buat smuanya.... Jazakumullah khayran katsira. widi n_n
Oleh : Taufiq Ismail Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran dengan warna platina dan keemasan berbentuk daun-daunan sangat beraturan serta sarang lebah demikian geometriknya ranting dan tunas jalin berjalin bergaris-garis gambar putaran angin Aku rindu dan mengembara mencarinya Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon dan menyeru azan tak habis-habisnya membuat lingkaran mengikat pinggang dunia kemudian nadanya yang lepas-lepas disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas yang memperindah ratusan juta sajadah di setiap rumah tempatnya singgah Aku rindu dan mengembara mencarinya Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya engkau berjalan sampai waktu asar tak bisa kau capai saf pertama sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini, yang luas luar biasa Aku rindu dan mengembara mencarinya Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita Aku rindu dan mengembara mencarinya Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan dalam simpul persaudaraan yang sejati dalam hangat sajadah yang itu juga terbentang di sebuah masjid yang mana Tumpas aku dalam rindu Mengembara mencarinya Di manakah dia gerangan letaknya ? Pada suatu hari aku mengikuti matahari ketika di puncak tergelincir dia sempat lewat seperempat kuadran turun ke barat dan terdengar merdunya azan di pegunungan dan aku pun melayangkan pandangan mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan dia berkata : "Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan" dia menunjuk ke tanah ladang itu dan di atas lahan pertanian dia bentangkan secarik tikar pandan kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran airnya bening dan dingin mengalir beraturan tanpa kata dia berwudhu duluan aku pun di bawah air itu menampungkan tangan ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan hangat air terasa, bukan dingin kiranya demikianlah air pancuran bercampur dengan air mataku yang bercucuran. Jeddah, 30 Januari 1988 Taufiq Ismail
Alhamdulillah rekan MPers smuaaa...pagi ini aku dapat SMS yang melegakan hati, khususnya buat mereka yang menunggu2 berita ini  Telah lahir dengan selamat Putra pertama dari Mas Bayu & Lala tanggal 26 Juli, pukul 04.40 WIB, proses normal dengan berat 3.5kg panjang 50cm...Terima kasih buat do'anya. Ayo Mbak Lolly katanya mau nagih oleh2 abang bakso 
(Kissah mujahidah NUSAIBAH diperang UHUD)
Hari itu Nusaibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya.
"Suamiku tersayang, Nusaibah berkata, aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang".
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang".
Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.
"Ibu, salam dari Rasulullah" berkata si penunggang kuda, "Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid" Nusaibah tertunduk sebentar, "Inna lillah.." gumamnya, "Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah".
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, "Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan bagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
"Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi".
Mata amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah".
Putra Nusaibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.
"Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur".
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. "Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu".
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka menuju ke rumah Nusaibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita,
"Ada kabar apakah gerangan kiranya?" serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, "apakah anakku gugur?"
Utusan itu menunduk sedih, "Betul".
"Inna lillah...". Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.
"Kau berduka, ya Ummu Amar?"
Nusaibah menggeleng kecil. "Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak".
Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela,
"Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani".
Nusaibah terperanjat. Ia memandangi putranya. "Kau tidak takut, nak?"
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan,
"Allahu akbar!"
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah . Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu kuduknya. Ujarnya
"Hai utusan, Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.?
Sang utusan mengerutkan keningnya.
"Tapi engkau perempuan, ya Ibu".
Nusaibah tersinggung,
"Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?"
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.
"Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur".
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.
Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas'ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat sesosok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas'ud mengenalinya,
"Istri Said-kah engkau?"
Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya,
"bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau? Beliau tidak kurang suatu apapun? Engkau Ibnu Mas'ud bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku".
"Engkau masih luka parah, Nasibah".
"Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?"
Terpaksa Ibnu Mas?ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya . Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,
"Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa".
Courtesy of henri_sugiharto@ykk.co.id
Dapet postingan dari temen milis...bagusssss banget *ummi jadi merinding tiap kali baca* Jadi mikir, betapa ummi gak punya amalan unggulan yang nanti bisa dibanggakan huhuhuhu...Semoga qt kelak dikumpulkan 4JJI di jannah-Nya ya Bi, ya Nak...
Ummi yg O/L tiap hari *dan yg masih terisak-isak*
Awal dari Segala yang Indah
Setelah peristiwa mendebarkan di atas shirath berakhir, mereka yang selamat (semua mukmin) masih harus menjalani satu proses lagi sebelum masuk ke dalam jannah. Nabi Shallallâhu 'Alayhi wa Sallam bersabda,
"Orang-orang mukmin selamat dari neraka, lalu mereka tertahan di satu jembatan pemisah antara jannah dan neraka, lalu sebagian mereka dibalas atas kezhaliman yang mereka lakukan kepada sebagian yang lain ketika di dunia. Hingga ketika mereka sudah dibersihkan dan disucikan, maka mereka diijinkan untuk masuk ke dalam jannah." (HR. al-Bukhârî)
Wajah-wajah berseri penuh harap berbondong-bondong masuk jannah. Mereka disambut malaikat penjaga dengan ucapan, "Salâmun 'alaykum bi-mâ shabartum", selamat atas kalian karena telah bersabar. Mereka masuk dari beberapa pintu. Sesuai dengan unggulan amal mereka di dunia, dari pintu tersebut ia akan dipanggil. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa pintu jannah tidak hanya satu. Allah berfirman, "(Yaitu) surga 'Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka." (QS. Shâd: 50)
Delapan Pintu Surga
Nabi menyebutkan ada delapan pintu jannah, salah satunya adalah ar-Rayyân yang diperuntukkan bagi yang konsisten dengan shaumnya. Nabi bersabda,
"Di jannah ada delapan pintu, ada satu pintu yang disebut dengan ar-Rayyân, tidak akan memasukinya kecuali orang yang (konsisten dengan) shaum." (HR. al-Bukhârî)
Adapun pintu-pintu lain, sesuai dengan unggulan amal mereka. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallâhu 'Alayhi wa Sallam bersabda,
"Maka barangsiapa termasuk ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, barangsiapa yang termasuk ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad, barangsiapa yang ahli sedekah, ia akan dipanggil dari pintu sedekah. Dan barangsiapa yang termasuk ahli shaum, akan dipanggil dari pintu ar-Rayyân." (HR. al-Bukhârî)
Mendengar keterangan dari Nabi tersebut, Abu Bakar tak kuasa memendam rasa penasarannya. Beliau bertanya, "Demi Allah tak seorangpun rugi dari pintu manapun mereka dipanggil, lalu adakah orang yang dipanggil dari seluruh, pintu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, saya berharap bahwa engkau adalah salah satunya."
Subhânallâh, harapan dari Nabi itu tentu bukan sekedar harapan seperti tatkala kita berharap. Harapan itu adalah bisyârah (kabar gembira) bagi Abu Bakar, bahwa memang beliau layak mendapatkannya. Bagaimana tidak? Beliau bukan saja orang yang khusyu' shalatnya, gemar berderma, tak pernah ketinggalan setiap event jihad, konsisten dengan shaum wajib bahkan sunnahnya. Tapi lebih dari itu, beliau selalu menjadi orang terdepan dalam amal shalih.
Kenyataan itu diakui oleh para sahabat utama, termasuk Umar bin Khaththab. Beliau berkata, "Demi Allah, tiadalah aku berlomba dalam setiap kebaikan melainkan aku mendapatkan Abu Bakar telah mendahului saya."
Suatu pagi, Nabi duduk-duduk bersama para sahabatnya lalu bertanya, "Siapa di antara kalian yang hari ini shaum?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapa yang pagi ini sudah mengantar jenazah?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapa yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?" Lagi-lagi Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang sudah menengok orang sakit hari ini?" Kembali Abu Bakar menjawab, "Saya." Hingga Nabi bersabda, "Tiada semua itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia akan masuk jannah." (HR Muslim)
Jika seseorang dipanggil dari semua pintu, jelas ini menunjukkan keutamaannya. Bukan indikasi dia akan kebingungan menentukan pilihan. Karena tidak ada orang yang bingung tatkala memasuki jannah, tidak ada yang bingung arah yang mesti dituju untuk sampai ke rumah yang telah disediakan untuknya. Bahkan mereka lebih hafal rumahnya di jannah daripada rumahnya di dunia. Nabi bersabda,
"Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh seseorang lebih hafal terhadap rumahnya di jannah daripada rumahnya di dunia." (HR. al-Bukhârî)
Apa Unggulan Amal Kita?
Sudah sepantasnya kita mengaca diri, adakah kita memiliki satu amalan yang menonjol sehingga bisa kita andalkan kelak di Hari Akhir? Rejeki amal seperti layaknya rejeki harta. Allah membagi dari berbagai pintu, dengan kapasitas yang bermacam-macam pula. Seperti yang dikatakan Imam malik, "Sesungguhnya Allah membagi amal sebagaiamama membagi rejeki." Maka kita lihat, apakah semua amal kita hanya biasa-biasa saja, tak ada yang menonjol, atau bahkan semua masih di bawah standar? Jika ada yang menonjol, hendaknya kita jaga dan tingkatkan. Bisa jadi, dari pintu itulah kita akan dipanggil di jannah. Allâhumma innî as-aluKal-jannah, wa a'ûdzubi-Ka minan-Nâr. Âmîn. ( dari majalah Ar-risalah 2006)
Dedicated to my humble friend firmansyah@unitedtractors.com  Pernah seorang teman mengungkapkan keheranannya. Dia heran karena baru saja mendengar berita bahwa ada seorang suami sanggup menceraikan istrinya yang menurut hemat dia melampaui syarat untuk dibilang cantik.. Sepertinya sulit bagi dia dan mungkin juga saya - katanya - untuk menemukan kekurangan pada rona fisiknya. Namun mengapa si suami 'begitu bodoh' melepaskan pasangan yang demikian mempesona. Keheranannya ternyata perlahan menulari saya, hingga dengan keheranan yang sama, saya terpaksa turut mengikuti berita perceraian pasangan tersebut, yang memang kebetulan artis. Tapi keheranan itu segera lenyap, ketika saya mendapatkan alasan si suami. Alasannya sederhana, namun cukup menghentikan saya untuk mengikuti berita-berita mereka selanjutnya. "Saya sudah tidak mencintainya", ketus si suami. Kekuatan apa yang bisa menahan perceraian bila seorang sudah kehilangan cintanya. Karena ini sama artinya bahwa ia sudah tidak bersedia lagi memberi, ia sudah tidak bersedia lagi memperhatikan, dan ia sudah tidak bersedia lagi mengembangkan pasangannya. Sebab cinta adalah kata yang mewakili tiga tindakan itu: memberi, memperhatikan dan mengembangkan. Ketika cinta sudah tiada lagi, jangan pernah berharap pasangan kita mampu melakukan itu. Padahal pada tiga tindakan itulah simpul-simpul pernikahan direkatkan. Maka bagi mereka yang sudah kehilangan cinta pada pasangannya, tak ada lagi yang mampu menahan lepasnya simpul-simpul tali pernikahan itu. Di usia pernikahan yang hampir 9 tahun, memang belum layak bagi saya untuk berbicara tentang ini. Tapi pada rentang usia 9 tahun itu, banyak pelajaran-pelajaran yang telah saya dapatkan. Salah satu pelajaran yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa ternyata manusia itu memiliki lapisan-lapisan kepribadian. Ia akan tersingkap satu persatu seiring dengan bertambahnya usia pernikahan. Cinta. Pada fase pertamanya, adalah cinta yang bisa didefinisikan sebagai rasa ketertarikan yang timbul karena lapisan kepribadian pertama. Ia biasanya muncul melalui stimulasi keindahan fisik, keserasian garis-garis wajah dan warna, mungkin juga keelokan bentuk. Indra penyerapnya adalah mata. Mata yang akan memberikan sinyal ke otak, hingga jelas tergambar keserasian dan keindahan itu dalam alam pikiran kita. Jika penggambaran ini terus berlanjut, maka ia akan memasuki wilayah hati. Hati inilah yang kemudian memberikan dorongan pada seseorang untuk mencintai. Dan ujung dari dorongan itu adalah keinginan untuk memiliki.. Cinta pada fase inilah yang mendominasi kehidupan kita pada awal-awal pernikahan. Tapi proses cinta tidak berhenti sampai di situ, ia akan terus berlanjut. Stimulasinya bukan lagi keindahan fisik. Ia akan memasuki lapisan kepribadian selanjutnya. Wilayah sifat atau karakter. Indra penyerapnya adalah perasaan. Perasaanlah yang meraba kesesuaian karakter pasangan kita dengan yang kita harapkan. Dan ketika telah banyak sisi-sisi karakternya yang telah teraba, maka cinta mengalami ujiannya yang pertama. Di medan pernikahan ini, masing-msing individu yang terlibat tidak mungkin lagi mampu menyembunyikan lapisan-lapisan kepribadiannya. Karena disini, nyaris setiap waktu kita berada pada atap yang sama, ruangan yang sama, bahkan kamar yang sama. Disini cinta diuji. Ujiannya adalah waktu. Waktulah yang akan menguji cinta. Saat lapisan-lapisan kepribadian pasanganan kita terbuka satu-satu seiring berjalannya waktu, masih kuatkah stamina cinta yang kita punya. Seberapa kuat stamina cinta kita untuk melakukan kerja-kerjanya, selama itu pulalah cinta akan bersemi. Karena cinta hanya akan terus tumbuh, mekar dan berkembang, selama kita kuat merawatnya dengan kerja-kerja cinta. Ketika kerja cinta itu sudah enggan kita lakukan, cinta pun akan segera layu, mati, dan akhirnya hilang. Berceritalah padaku tentang cinta, dengan rasionalisme Yunani atau romantisme Romawi, dengan rumusan Eintein atau syairnya Gibran, dengan atau logika Barat filsafat Timur, dengan urakan Jamrud atau melankolisnya Peter Pan. Aku mungkin akan terpesona, tapi jangan harap bahwa aku akan tunduk untuk mencintaimu. Karena cinta tidak hanya ada dalam kata, karena cinta butuh kerja nyata. Ia harus teraktualisasi dalam tindakan. Namun bagi para pecinta sejati, ketika cintanya memasuki fase ini, ia tidak lagi disibukkan oleh gangguan yang timbul karena terbukanya lapisan-lapisan kepribadian pasangannya. Cinta telah menyibukkan mereka untuk melakukan kerja-kerja cinta. Tidak ada lagi tenaga yang tersisa, semua larut dalam kerja-kerja memberi, memperhatikan, dan mengembangkan. Pekerjaan cinta bukan lagi beban bagi para pecinta sejati, tapi mereka justru menemukan kenikmatan jiwa saat dirinya melakukan kerja-kerja cinta itu. Cinta telah menjelma jadi padang luas dalam hati mereka, dan gangguan itu, niscaya akan lelah mengitari keluasan padang hatinya. Mereka sadar betul, bahwa mencintai bukan untuk menerima, tapi mencintai adalah pekerjaan memberi, memperhatikan, dan mengembangkan. Saat mereka mulai tergoda untuk mengingkari kerja cinta, di telinga hati para pecinta sejati itu selalu terngiang-ngiang pesan Rasulullah SAW, "yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik memperlakukan istri-istrinya", begitu kata Rasulullah. Firmansyah
Kerja Cinta Pertama Malam padhang mbulan benar-benar menggodaku untuk sejenak duduk di pelataran depan rumah. Walau kecil, tapi cukup nyaman untuk sekedar bersandar dan menelonjorkan kaki. Hening, kutenggok sejenak istri dan anak-anak yang sudah terlelap tidur. Sungguh malam yang sempurna untuk menemui "teman baikku". Ia kerap kali ku termui pada saat- saat seperti ini. Malam ini ingin aku kembali mendengarkan kata-katanya, petuah-petuahnya, nasehat-nasehatnya, tentang apa saja. Kubiarkan kensunyian malam membawaku menemuinya. Perlahan ............ Hirarkis tapi beriringan, - teman baikku mulai bicara - itulah sifat kerja cinta - katanya -. Engkau takan mungkin bisa memperhatikan sebelum kamu mampu memberi. Dan pengembangan takkan pernah kau temukan tanpa perhatian yang kamu lakukan. Apa pula yang hendak kau perhatikan ketika belum ada yang kamu berikan, dan bagaimana pula kau mengharapkan pengembangan padahal kamu tidak memberikan perhatian. Karena kerja ini adalah pola kerja yang bersifat hirarkis; memberi, memperhatian dan mengembangkan. Kamu takkan mungkin mendahulukan salah satu dari yang lainnya. Tapi ia bukan hanya hirarkis, ia juga beriringan. Hirarkis beriringan. Maksudnya, saat kamu melakukan kerja selanjutnya, kerja sebelumnya tidak boleh kau tinggalkan. Ketika kamu memperhatikan, pada saat yang sama juga kamu harus memberi. Dan ketika pengembangan sendang kamu kerjakan, pekerjaan memberi dan memperhatikan harus juga kamu lakukan. Saat memperhatikan kamu harus memberi, dan saat mengembangakan kau juga harus memberi dan memperhatikan. Maka ketika kamu memutuskan untuk berani mencintai, mulailah dengan kerja memberi. Karena kerja ini menjadi bukti awal bahwa kau benar-benar berminat mencintainya. Memberi juga akan menjadikan bibit-bibit cinta dalam ladang hati pasanganmu bersemi. Sebagaimana tanaman, ia akan subur ketika pupuk kamu berikan dan air kamu siramkan.. Selanjutnya kamu tinggal memperhatikan. Kamu tinggal mengembangkan. Lalu kau boleh petik buah cinta pasanganmu hasil jerih payah kerja cintamu. Memberi. Ia bukan pekerjaan ringan. Maka kamu harus kuat. Karena ketika kerja ini ingin kamu lakukan, kamu harus keluar dari dirimu, wilayah kepentinganmu, wilayah keinginmu, melampaui batas-batas kesenaganmu, dan memendam semua ketergantungamu. Menuju dunia pasanganmu, memberi semua yang dibutuhkannya, jasad dan ruhaninya, dunia dan ukhrowinya. Dan itu takkan mungkin bisa kau lakukan jika kamu orang yang lemah. Memberi. Ia juga bukan pekerjaan gampangan. Maka kamu harus cerdas. Karena bukan yang diinginkan pasanganmu kau berikan, tapi kamu harus penuhi yang ia butuhkan. Kamu harus jeli melihatnya. Antara kebutuhan dan keinginannya. Jika kamu salah memberi, bibit cinta pun takkan pernah bisa bersemi. Bahkan mungkin kau malah menyuburkan bibit yang lain. Bibit yang salah. Ketika kau salah memberi. Kamu tidak perlu lagi memperhatikan. Tak perlu lagi mengembangkan. Kamu cukup memberi saja. Cukup itu. Bahkan sangat cukup. Karena pemberianmu sudah cukup untuk menyuburkan bibit yang salah itu. Ia akan tumbuh, cukup dengan pemberianmu yang salah itu. Maka suatu saat engkau akan terperangah, betapa bibit salah itu telah merusak keterminatan cintamu dan bibit cinta pasanganmu. Kebencian, khianat, dan egois adalah sebagian bibit yang salah itu. Ketika kau sampai pada situasi ini, kamu akan sadar bahwa ternyata kamu salah memberi. Ketika kau salah memberi. Dan kamu malah berambisi memenuhi semua keinginannya, kamu mungkin bisa. Pada awalnya. Tapi yakinlah, suatu saat kamu akan sampai pada situasi dimana kamu tidak bisa memenuhi lagi keinginannya. Dan jika kau sampai pada situasi ini, bibit salah yang telah kau suburkan itu akan segera kau tuai hasilnya. Ia akan mengoyak-ngoyak keterminatan cintamu padanya. Sejadi-jadinya. Dan jika kau tidak segera membenahinya, engkau takkan mungkin mampu bertahan untuk tidak mengatakan: "aku sudah tidak mencintainya lagi". Aku punya kuncinya. Tapi jangan kau bilang-bilang pada istrimu. Ku pilihkan yang paling sederhana. Supaya kamu mudah menggunakannya. Begini. Kamu tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui keiginan-keinginan pasanganmu. Kamu cukup gunakan perangkat pendengaranmu. Kamu tinggal mendengar selanjutnya kamu penuhi. Disini, kuncinya kamu hanya butuh sifat reakti Tapi jika kamu ingin mengetahui kebutuhannya. Selain kau gunakan perangkat pendengaran, kamu juga harus gunakan perangkat yang lain. Perangkat hati. Perangkat inilah yang akan membantumu menyelami lapisan-lapisan kepribadian pasanganmu. Sedalam-dalamnya. Mencari semua yang dibutuhkannya, jasad dan ruhaninya, duniawi dan ukhrawinya. Untuk kau beri, kemudian kau perhatikan selanjutnya kau kembangkan. Disini, kuncinya kamu harus proaktif. Jika telah kamu temukan kebutuhannya, dorongan keterminatan cintamu padanya niscahya akan menguatkanmu untuk memenuhi semua kebutuhannya. Ia bisa kau panggil kapan saja. Jika kamu mau. Kamu tinggal membuka catatan pada lembaran ingatan hatimu tentang alasan keterminatan cintamu padanya. Kamu baca berulang-ulang. Sampai kamu merasakan ada sesuatu yang mendorong begitu kuat dalam dirimu hingga ragamu tergerak melakukan kerja memberi. Karena dalam catatan itu, kamu dulu menyimpan semua hal yang positif tentang dirinya, yang karena hal itu kamu berminat mencintainya. Dan keterminatan cintamu itu adalah kekuatan pendorong yang sangat kuat. "Kak, belum tidur ?". tangan istriku tiba-tiba saja sudah ada dipundakku, mengusir teman yang sedari tadi sedang aku dengarkan. Kulihat cincin dijemarinya, sudah 9 tahun ia memakainya. Aku ingat betul cincin itulah pemberianku saat mengikrarkan keterminatanku padanya didepan penghulu dulu. Ya, mungkin inilah hikmah mahar dalam perkawinan. Agar ikrar yang di ucapkan bisa melahirkan kepercayaan. Kata memang bisa membuka harapan, tapi pemberian akan melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan adalah ladang hati paling subur bagi tumbuhnya benih-benih cinta. Sebelum beranjak tidur, sekali lagi ku catat bahwa memberi memang bukan pekerjaan ringan, bukan pula pekerjaan gampangan.Tapi justru dalam jenak-jenak kerja memberi inilah kita menemukan makna keter-minat-an, harga cinta, dan menyaksikan betapa indah panorama dari sebuah pembuktian kalimat cinta. Sungguh benar apa yang di katakan Rasulullah SAW 14 abad yang lalu, "Saling memberilah kamu, niscahya kalian saling mencintai" begitu kata Rasulullah. Attachment: Springtime.jpg
Postingan ini juga aku ambil dari Eramuslim (secara pengagum karya para penulis huebat di Eramuslim gitu), smuanya mengingatkan kita untuk selalu berbakti pada Ibu.
I Love U Mom :)
Dialah Wanita Pertama Dalam Hidupku
Publikasi: 31/03/2004 15:23 WIB
eramuslim - Dua puluh satu tahun telah berlalu usia pernikahanku. Sedikit banyak, aku telah mendapatkan cahaya baru dari kilasan-kilasan cinta.
Suatu waktu aku akan keluar bersama seorang wanita, dan dia bukan istriku. Ide tersebut lahir dan disarankan oleh istriku ketika suatu hari ia melintas di hadapanku dan berkata, “Aku tahu bahwa abang sangat mencintainya.” Wanita yang istriku berharap aku dapat keluar bersamanya dan menyediakan waktu yang cukup untuk menemaninya adalah ‘bundaku’. Beliau telah menjalani masa sendiri selama sembilan belas tahun semejak ditinggal pergi oleh ayahku selamanya. Namun pekerjaan-pekerjaan di kantor, kehidupan harianku bersama tiga orang ‘pangeran-pangeran kecilku’ dan tanggungjawab-tangggungjawab lainn yang menyebabkan aku sangat jarang sekali menjenguknya.
Suatu hari aku menelepon dan mengundang beliau untuk ikut makam malam. Pertanyaan beliau menakjubkanku, “Apakah Asha baik-baik saja?” Maklum, menurutku beliau tidak biasa menanyakan ungkapan-ungkapan seperti itu kepadaku, terutama –mungkin- mengenai waktu aku menghubungi beliau di saat tengah malam.
Aku menjawab, “Ya, Asha baik-baik saja. Dan Asha ingin sekali menghabiskan waktu bersama bunda.” Beliau berkata, “Kita berdua saja?” Kemudian beliau terdiam sejenak, lalu menjawab, “Ibu sungguh sangat menyukainya”.
Pada hari sabtu sore, setelah kembali dari kantor, aku langsung mengendarai ‘Feroza Hijauku’ melintasi jalan menuju rumah kediaman beliau. Aku sedikit segan dan gugup saat tiba di halaman rumah beliau. Namun aku juga membaca kekwatiran di wajah beliau. Beliau sedang menungguku di samping pintu rumah, mengenakan pakaian panjang dengan jilbab biru cantik yang menutupi kepalanya. Aku kembali teringat pakaian itu adalah hadiah terakhir yang dibeli oleh ayahku sebelum beliau wafat.
Beliau tersenyum seperti malaikat dan berkata, “Bunda telah katakan kepada semua tetangga bahwa bunda akan keluar bersama anak bunda hari ini. Mereka semua begitu senang mendengarnya. Tetapi mereka tidak shabar menunggu cerita-cerita bunda bersama Asha yang akan bunda ceritakan kepada mereka setelah bunda kembali nanti.”
Kami pun berangkat menuju sebuah restoran Padang yang tidak terlalu megah. Interior khas Minangnya begitu anggun dan suasana di dalamnya sangat indah dan asri. Aku menggandeng beliau dengan erat dan mesra, seolah beliaulah ‘wanita pertama dalam hidupku”. Setelah kami mendapatkan tempat duduk, aku mulai membacakan daftar menu makanan dan minuman yang disediakan. Sebab beliau saat ini tidak lagi mampu untuk membaca kecuali susunan huruf-huruf yang besar saja. Di saat aku sedang membacakan susunan menu, beliau menatapku dan melayangkan selembar senyum menyejukkan. Sesaat kemudian sebaris kalimat terucap, “Bunda adalah orang yang telah membacakan sesuatu untuk Asha ketika Asha masih kecil dulu.”
Kemudian aku menjawabnya, “Tiba kini waktu yang tepat. Sesuatu yang menjadi hutang Asha terhadap apa yang bunda telah persembahkan untuk Asha.”
Kami mengobrol panjang lebar sambil menikmati makanan yang tersaji. Masing-masing kami tidak menemukan sesuatu yang asing dari kebiasaan kami saat ‘curhat’. Cerita-cerita masa lalu yang penuh kenangan juga kami selingi dengan cerita dan pengalaman baru. Tanpa terasa kami lupa waktu hingga akhirnya tiba waktu tengan malam. Selang beberapa saat aku segera mengantar beliau pulang.
Ketika kami sampai di rumah, beliau berkata, “Bunda setuju bila kita dapat keluar bersama sekali lagi, tetapi bunda yang akan mentraktir Ahsa. Deal?” Aku mengangguk ramah lalu mencium tangan beliau dan mengucapkan salam, “Salam wa rahmah alaiki, wahai bundaku!”
Setelah melewati beberapa hari, wanita yang telah menjadi ‘hati bagi anak-anaknya’ tersebut meninggal dunia. Kejadian itu berlalu sangat cepat dan aku belum dapat melakukan sesuatu pun untuknya. Setelah kejadian yang menyedihkan itu, aku mendapatkan sebuah ‘lembaran’ dari restoran Padang, tempat kami menikmati makan malam bersama beberapa waktu yang lalu. Termaktub padanya tulisan dengan huruf-huruf besar yang rapi, “BUNDA TELAH MEMBAYAR TRAKTIRAN BUNDA LEBIH AWAL. BUNDA TAHU BAHWA BUNDA AKAN PERGI. YANG PENTING, BUNDA TELAH MEMBAYAR UNTUK JATAH DUA ORANG, UNTUK ASHA DAN ISTRI ASHA.KARENA SESUNGGUHNYA ASHA TIDAK AKAN MAMPU MENTAKDIRKAN APA MAKNA MALAM ITU BERKAITAN DENGAN BUNDA. BUNDA MENCINTAI ASHA.”
Dalam satu kesempatan aku mulai memahami dan menghargai makna kalimat “Cinta” atau “Aku mencintaimu”. Apalah artinya di saat kita menjadikan arah lain yang akan merasakan cinta kita dan orang yang kita cintai. Tidak ada sesuatu yang lebih berarti daripada cinta dan kasih sayang kedua orang tua dan lebih khusus cinta seorang “bunda”. Aku akan mempersembahkan semesta waktu yang mereka berhak atasnya, dan dialah hak Allah sepenuhnya dan hak mereka. Perkara-perkara ini jangan sampai kuperlambat lagi.
Asha Gazzaz deruja_chandra@yahoo.co.uk
Buat Ayat: “Keistiqamahanmu akan memudahkanmu untuk menyempurnakan separuh agamamu. Insya Allah, dialah dermaga satu-satunya tempat kau berlabuh kelak!”
Postingan tentang betapa besar kasih Ibu di situs manapun pasti membuatku menangis, salah satunya aku posting disini. Ini diambil dari Eramuslim beberapa tahun yang lalu (tapi gak pernah bosen aku baca)
Tanganmu, Ibu…
Publikasi: 10/10/2003 11:03 WIB
Ibumu adalah Ibunda darah dagingmu Tundukkan mukamu Bungkukkan badanmu Raih punggung tangan beliau Ciumlah dalam-dalam Hiruplah wewangian cintanya Dan rasukkan ke dalam kalbumu Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan
(Emha Ainun Najib)
Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. “Alhamdulillah, kamu sudah pulang” itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.
Ba’da Ashar,
“Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih”. Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. “Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja” pikir saya
“Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram”. Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
“Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah” pinta Ibu.
“Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam” sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. “Neng..” itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. “Bu, siapa itu…?” tanya saya. “Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang” pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.
Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?
“Dingin” bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.
Adzan isya berkumandang,
Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.
Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. “Duh Allah, sayangi Mamah” spontan saya memohon. “Neng…” suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.
“Tangan ibu kenapa?” tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.
“Penyakit orang tua”
“Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga” tambahnya.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.
Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam Bukan!, kau lebih dari itu Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana, Bukan!, kau lebih dari itu, Kau adalah benderang matahari di tiap waktu, Bukan!, kau lebih dari itu Kau adalah Sinopsis semesta Itu saja.
Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan…. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..Pernahkah..?
Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya “Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak”. “Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang” Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.
***
Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya…
* dwi,shanti, apakabar Ibunda?
mahabbah12@yahoo.com
Kuakui... Setelah malam larut ke dalam wajahmu Senyummu tiba tiba menjadi manis sekali Kupikir hanya karena permainan cahaya belaka Namun ternyata cahaya itu...] ...cahaya yang pudar ...hanya terlihat jika remang - remang malam ...menampilkan kunang - kunang di cakrawala parasmu
Ingin rasanya aku terjun bebas di kolam siluet senyummu ...dan berenang di dalam lautan cahaya bermandikan indah bayangmu Mungkin aku akan basah dan bermandikan pelangi ... ....dan mungkin aku akan tersesat serta ...mengapung kelaparan karena rindu yang mendalam
Akan tetap kuselami lautmu ... Sampai kutemukan mutiara yang kau sembunyikan Biarpun aku harus terlarut dalam setiap kali kedipan matamu Tak akan kulewatkan pertunjukan aurora dalam setiap tatap matamu
Tahukah kau...? Saat - saat terindah yang selalu kunantikan... ...yaitu saat hati mengetuk pintu hati yang lain Dan berbisik malu secara perlahan...
Oleh : Dede Farhan Aulawi
terbitnya fajar di ufuk timur mengawali setiap langkahku dengan asma-Nya sejuta do'a terpanjat ke hadirat-Nya agar setiap langkah kita... dan apapun yang akan kita lakukan... senantiasa berada dalam ridlo-Nya. Amin
dengan demikian....kita kan menjaga setiap ucapan kita bahkan seluruh perbuatan kita... termasuk rutinitas kehidupan kita agar selalu berada dalam garis ketentuan-Nya
kebeningan awan di atas sana begitu meruntun jiwa keheningan syahdu meresap ke tangkai hati betapa sejuk sentuhan bayu menerobos ruang jendela di kejauhan kabut tebal masih menyelubungi angkasa mungkin... hujan akan turun membasahi tataran bumi tercinta sesekali laungan kodok memecah keheningan pagi
kenangan demi kenangan berlabuh di depan mata sedih, suka , lucu silih berganti namun impian semakin menebal impian tuk duduk bersenandung dengan yang tersayang impian tuk merawat bunga hati
namun...bunga itu tlah kering kini lupa memberi siraman air lahir dan siraman gizi rohani melayang tanpa tujuan tertiup sang bayu terperosok di antara retakan bumi yang patah bunga...tidak lagi seperti bunga.... tapi ia bagai ilalang kering... ilalang tiada harga dimana bernilai tak lebih dari seonggok sampah jalanan paling tinggi bagai ranting yang rapuh... dimana mudah tersulut dan terbakar oleh terik mentari ketika ada pemantik.... maka meledaklah emosi...keluarlah umpatan dan cercaan padahal hidup...adalah hidup.... pengendalian emosi adalah soal kematangan...dan kedewasaan
betapa banyak orang yang kecewa karena sikap kita betapa banyak orang tersakiti karena ucapan kita mau sampai kapan....??? akankah kita terus menebar kecewa...dendam...dan luka lama...? janganlah berlindung dibalik alasan "kebiasaan" apalagi dibiarkan bertengger di singgasana "tabi'at" biarkan berlalu.... nun jauh di sana terhampar ladang "maaf" yang luas tebarkan benih - benih kasih sayang pupuk dengan kesabaran dan sirami dengan keikhlasan niscaya kita kan memetik panen kemuliaan. Amin
Oleh : Dede Farhan Aulawi
Sahabat… Aku coba berfikir dalam diammu Aku mencoba mendengar bisik nuranimu engkau manusia biasa...pasti punya pilihan dan keinginan
Aku tahu...di gerimis hujan malam itu Kau datang mengetuk pintu hatiku Tapi..aku tlah terlarut dalam tidur panjangku Kau datang...tuk menyatakan sebuah penyesalan Kau datang dengan segenggam bunga kenangan Tepat...beberapa saat setelah lapuknya nisan kasihku
Ingatkah waktu itu.... Ketika kuberdiri dalam gerimis penantian Berharap ada uluran payung kasih tempat ku berlindung Dari sengatan mentari siang... Dan guyuran hujan di musim ketidakpastian Basah dan dingin menyelimutiku saat itu Waktu yang bergulir semakin malampun tak ku hiraukan Karena hatiku hanya mengerti satu bahasa.... ...yaitu bahasa "Rinduku Padamu"
Semua ku lakukan untukmu Sepenggal pesan yang ingin ku sampaikan padamu Di detik - detik yang tak pernah kau mau mengerti Aku tak ingin titipkan pesan pada siapapun Karena ingin kupastikan ...bahwa pesan itu langsung sampai padamu Dengan bahasaku ...tuk memasuki ruang hatimu Dari bibirku yang membiru karena menggigil kedinginan Tuk menjadi saksi akan kesungguhan ucapanku
Aku faham kalau kau tak mau datang di malam itu Tapi tak adakah sederet pesan biar ku tak mati kedinginan Tak adakah secuil nurani sebagaimana pernah kita rasakan... Haruskan tuk membuktikan Kesungguhan dengan Kematian ???
Sore ini... Aku berdiri di atas kuburku Kutatap seonggok tanah merah yang masih membekas Kubaca sebuah nama di papan nisan Dengan sedikit taburan bunga sebagai hiasan... Dan aku bertanya.... ..."Akankah Kau Tetap mengingatku ?"
Oleh : Dede Farhan Aulawi
Ya ALLAH..... Engkau Maha Tahu setiap bersitan kalbu Engkau Maha Mendegar lirih bisik jiwaku .....dan setiap desah doaku kala hening membungkus malam Engkau Maha Melihat ... lelehan air mata kala sunyi begitu menyergap Engkau Maha Mengetahui apa yang terucap dan tersirat Engkau Maha segala - galanya.... Malam - malam akan menjadi saksi setiap linangan air mata ... yang selalu munajat hanya pada-Mu semata Memohon dan..memohon... Karena kami adalah hamba-Mu yang sangat lemah Tak ada yang patut kami banggakan atas seluruh kekayaan yang kami miliki ...karena itu semua adalah titipan dan amanah-Mu jua Begitupun dengan amanah hati atas diriku ...bimbing aku agar bisa mencintai dan dicintai sepenuh hati Dicintai oleh seseorang yang kan menjadi takdir hidupku Disayangi oleh kedua orang tua yang telah melahirkanku Disukai oleh seluruh saudara dan sahabatku Dan diridhoi oleh Engkau Tuhan Yang Maha Pemurah
RABB......... aku hanya memohon bertemu dia wanita biasa ..... bukan Ratu dengan mahkota di kepala juga bukan saudagar dengan berbagai piala Hanya wanita biasa .... tetapi punya cinta
Ya ALLAH..... ampuni aku yang berharap dia... yang mungkin Kau takdirkan bukan untukku tapi aku manusia biasa... yang memiliki asa dan cinta Engkau Tuhan Yang Serba Maha... Beri aku kesungguhan tuk mencintai dan menyayanginya Beri aku ketulusan tuk persembahkan bunga kesetiaan Beri aku kesempatan tuk mendampingi hari - harinya ...sebagai pendamping hidup yang penuh kemuliaan... Engkau Maha Tahu.... Aku hanyalah manusia papa yang tak memiliki apa - apa.... Kecuali "Kebeningan Cinta "
Oleh : Dede Farhan Aulawi
Langit mendung...menyelimuti Bandung-ku Guyuran hujan datang setiap saat sekehendaknya Basah bumiku menyegarkan udara persadaku Memberi inspirasi ketenangan dan rasa syukur "Segala puji milik-Mu ya Rabb-ku" Disini aku bersimpuh tuk bersyukur atas segala nikmat-Mu
Ya Rabb...sungguh banyak berbagai nikmat yang telah Kau anugerahkan Bahkan kenikmatan - kenikmatan itu tak bisa dicacah dengan hitungan Hanya saja aku jarang menyadarinya.... Dan kini baru ku tahu...baru ku sadar... Ketika aku berkunjung ke berbagai persinggahan...
Batapa banyak orang yang terbaring di rumah sakit.... Dengan biaya berpuluh...bahkan beratus juta... Mengerang kesakitan.... Tak enak diam dan tak enak makan.... Oh...betapa mahalnya tuk peroleh nikmat sehat-Nya Dan syukur...saat ini aku sehat wal'afiat
Betapa banyak orang memiliki keterbatasan fisik.... Tapi mereka tetap survive untuk tetap hidup dan bersemangat.... Menimbulkan inspirasi syukur... Bahwa aku harus lebih giat lagi bekerja Dan banyak lagi fenomena empirik yang bisa menimbulkan rasa syukur Tapi hanya segelintir orang yang mau menyadarinya... Kembali aku bersyukur...bahwa aku masih diingatkan tuk bersyukur
Ternyata Allah Yang Maha Kuasa memiliki berbagai cara tuk mengingatkan... Agar kita tak lepas kontrol dengan berbagai kenikmatan... Karena sesungguhnya apappun yang terjadi dengan kita... Bagaimanapun kondisi kita.... Itu sesungguhnya adalah nikmat terbaik buat kita Nikmat terindah disisi-Nya Meskipun kadang kita tak menyadarinya... Karena kita sering memungkiri hikmah di balik setiap kejadian Padahal kalau kita bersyukur..... Nikmat Rabb itu akan ditambah Dan sebaliknya jika kita kufur terhadap nikmat-Nya Maka sesungguhnya siksa-Nya sangat berat.... Padahal kalau kita mau merenung.... "Nikmat Rabb yang mana yang bisa kita dustakan ?"
|
|